Komentar

Waktu saya mendapatkan kutipan yang saya kumpulkan. Saya agak ragu untuk menge-mailkannya. Saya takut salah. Ternyata diterima. Ya langsung saja saya buat komentar seperti dibawah ini:

Studi yang ditulis oleh Henry Sumurung Oktavian tentang perilaku konsumen indomie selera nusantara disingkat ISN yang dibuat pada tahun 2004. Menyelidiki mahsiswa dibogor tetang pola konsumsi terhadap ISN. Seperti yang sudah dijelaskan dalam penelitian bahwa kebanyakan mahasiswa yang notabennya  tinggal di indekost. Sangat rentan untuk mengkonsumsi mi instan karena lebih praktis dalam pembuatannya terlebih lagi lebih murah. Dan dalam penelitian ini adalah ISN yang merupakan hasil dari pengembangan produk yang mengangkat cita rasa makanan khas daerah di Indonesia. Yang pemetaan atribut berdasarkan 5 wilayah rasa ISN yaitu: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Bagian Timur. Dan menurut penelitian yang yang sudah dijelaskan. Kebanyakan mahasiswa yang makan indomie rata-rata pengeluaran perbulannya adalah Rp. 500.000,00. Jadi menurut saya, indomie memang harus meningkatkan lebih baik lagi tentang kualitasnya yang berupa rasa, gizi, dan harga tentu saja. Maklum saja, mahasiswa yang hidup di indekost kebanyakan dri mereka suka yang praktis dan terlebih lagi murah karena uang yang pas-pasan.  Kebanyakan orang bilang bahwa; mengkonsumsi mi instan itu tidak baik karena banyak bahan pengawetnya dan tidak baik bagi kesehatan bagi yang sering mengkonsumsinya. Menurut saya, disamping indomie memiliki rasa yang beragam. Setidaknya juga berusaha untuk mengurangi bahan pengawet dan juga member gizi bagi produknya, agar konsumen tidak hanya makan karena rasanmya enak saja.

Kebanyakan konsumen dari ISN mengetahui produk ISN dari iklan. Untuk meningkatkan perilaku konsumen mi instan. Maka lebih baik indomie lebih suka beriklan agar produk minya bisa dikenal masyarakat lebih luas lagi. Tidak hanya produk-produk itu saja. Kan ada segmentasi bahwa masyarakat di daerah ini produknya ini, dan di daerah itu produknya itu. Sebaiknya setiap daerah diberi produk yang sama agar semua bisa merasakan produk dari indomie. Kembali lagi ke mahasiswa di bogor, kebanyakan dari mahasiswa suka dengan rasa tertentu menurut daerah tempat tingalnya masing-masing. Mungkin karena sudah terbiasa dengan rasa makanan di daerah mereka aslinya tinggal. Indomie untuk saat ini merupakan market leader dalam medan persaingan berbagai produk mi instan di Indonesia. Posisinya yang kuat disebabkan oleh faktor Indomie sebagai produk mi instan yang pertama kali hadir di Indonesia serta strategi promosi dan pemasaran yang gencar. Metode promosi yang digunakan adalah terutama melalui iklan di media elektronik dan cetak, mensponsori berbagai acara, serta instalasi iklan billboard secara luas. Dalam pemasarannya, group distribusi Indofood memiliki jaringan distribusi mi instan yang terluas di Indonesia, menembus sampai hampir ke setiap sudut kepualuan. Jumlah titik stok (gudang) semakin diperbanyak secara agresif, sehingga mampu menyediakan penetrasi pasar yang lebih luas melalui rantai suplai dan penghantaran. Gudang stok ditempatkan pada area-area yang memiliki outlet retail yang banyak, termasuk pasar tradisional, sehingga setiap gudang dapat melayani masing-masing area geografis dalam waktu yang sesingkat mungkin. Jadi semua bias menikmati indomie dengan aneka rasa ditempat manapun.

Dan atribut yang paling penting bagi konsumen dalam penelitian adalah harga, rasa, bobot, kandungan gizi, aroma, kesegaran, daya tahan, pengolahan, kesediaan produk, pelengkap tambahan, dan spesifikasi kualitas. Jadi untuk meningkatkan minat pembeli bagi mahasiswa di bogor terutama. Karena kebanyakan dari mereka menyukai rasa tertentu. Maka lebih baiknya jika indomie membuat produk yang cocok untuk anak indekost yang murah. Seperti mie gelas (produk/merek lain) contohnya yang produknya murah dan kecil.

Tentunya indomie selalu berinovasi agar mendapat tempat bagi konsumenya. Karena selalu saja membuat produk mi-mi baru yang sesuai dengan selerah nusantara. Dan inilah macam ISN Indomie Goreng Cakalang, Indomie Goreng Rasa Rendang Pedas Medan, Indomie Rasa Coto Makassar, Indomie Rasa Empal Gentong, Indomie Rasa Kari Ayam Medan, Indomie Rasa Mi Cakalang, Indomie Rasa Mi Celor, Indomie Rasa Mi Kocok Bandung, Indomie Rasa Sop Buntut, Indomie Rasa Soto Banjar, Indomie Rasa Soto Banjar Limau Kuit, Indomie Rasa Soto Betawi, Indomie Rasa Soto Medan. Di untuk mahsiswa di bogor. Walupuan lebih banyak makan indomie, setidaknya juga harus makan banyk sayur agar meencegah bahan pengawet yang masuk dalam tubuh. Sekian komentar dari saya karena banyak kesalahan.

 

 

Kasus

HENRY SUMURUNG OCTAVIAN, 2004, Perilaku Konsumen Indomie Selera Nusantara (Kasus Mahasiswa di Bogor). Di bawah bimbingan MA’MUN SARMA dan M.D. DJAMALUDIN.

Indonesia sebagai negara berpenduduk besar telah menempatkan industri pangan sebagai industri yang strategis baik dalam penyerapan pasar maupun penyediaan sumber daya. Keragaman budaya dari ratusan suku bangsa yang tersebar di luasan wilayah kepulauan Indonesia merupakan warisan leluhur yang sangat bernilai tinggi. Perilaku makan merupakan bagian penting pula dari adat istiadat di banyak suku Bahkan makanan telah menjadi simbol kebudayaan dan berpotensi menjadi bagian budaya nasional.

Tuntutan akan kecepatan dan kepraktisan yang hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan dan kelompok masyarakat melahirkan budaya instan termasuk pada budaya makanan instan. Salah satu jenis makanan instan yang cukup popular adalah mi instan. Keberadaan mi instan di Indonesia dirasakan cukup fenomenal sejak diperkenalkan tahun 1969 telah mengalami lonjakan tingkat konsumsi yang cukup tinggi yaitu 43 bungkus/kapita/tahun di tahun 2000.

Indomie sebagai pemimpin pasar mi instant, dari sekitar 30 pemain, telah melakukan banyak terobosan dalam menjaga keutuhan pangsa dan bahkan meningkatkannya. Persaingan Indomie akan lebih diarahkan pada persaingan dengan produk pemium dan impor. Salah satu produk Indomie yang diluncurkan PT ISM (Indofood Sukses Makmur, Tbk) dalam program LIntas Budaya Nusantara adalah Indomie Selera Nusantara (ISN). ISN merupakan hasil dari pengembangan produk yang mengangkat cita rasa makanan khas daerah di Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka penelitian ini dilakukan untuk (1) mengidentifikasikan pola konsumsi konsumen mahasiswa terhadap ISN; (2) menganalisiskan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap konsumen mahasiswa terhadap atribut-atribut ISN; (3) menganalisis hubungan pola konsumsi ISN dengan selera makanan daerah.

Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian tersebut yaitu dengan menggunakan metoda survey. Data diambil melaui contoh konsumen yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu (judgment non probability sampling) Adapun kriteria contoh adalah mahasiswa/i, konsumen makanan khas daerah dan mi instan serta merupakan pembuat keputusan   dalam konsumsi mi instan.

Hasil survey penelitian terhadap 140 responden menunjukkan bahwa sebagian besar contoh konsumen ISN adalah berpengeluaran rata-rata per bulan dibawah Rp 500.000,-, bertempat tinggal di indekost.

Perilaku konsumsi makanan khas daerah menunjukkan pola yaitu tingkat frekuensi konsumsi yang tidak menentu (82,1%), cara memperoleh makanan khas daerah melalui kombinasi antara membuat, membeli dan acara-acara khusus (44,3%). Sebagian besar responden menyukai makanan khas berjenis lauk (36,4%) dan sebanyak 45,4% mengkonsumsinya sebagai makanan selingan. Jenis makanan yang paling banyak dikonsumsi adalah jenis makanan rebusan (39,8%). Adapun alasan mengkonsumsi makanan khas daerah adalah dikarenakan cita rasa yang terdapat pada makanan tersebut (86,76%). Sebanyak 40,7% responden terkadang merasakan kesulitan dalam memperoleh makanan khas daerah.

Perilaku kosumsi ISN menunjukkan pola yaitu terdapat jumlah yang sama pada konsumen yang mengkonsumsi sedikit dan konsumen yang mengkonsumsi banyak (34,3%). Sebagian besar responden mengkonsumsi jenis rasa tertentu (59,3%). Dasar pertimbangan konsumsi sebagian besar responden adalah situasi dan kondisi saat proses pembelian (35%). Sebanyak 72,3% responden mengetahui atau menyadari keberadaan iklan ISN.

Hubungan antara perilaku konsumsi makanan khas daerah dan konsumsi ISN dengan menggunakan metode tabulasi silang dan uji asosiasi Chi-Square umumnya menunjukkan tidak adanya hubungan diantara kelompok variabel perilaku konsumsi makanan khas daerah dan variabel perilaku konsumsi ISN.

Melalui metoda Cochran Q-test dengan proses empat kali iterasi maka 18 atribut yang ada dirasakan hanya sebelas atribut yang dianggap penting yaitu harga, rasa, bobot, kandungan gizi, aroma, kesegaran, daya tahan, pengolahan, ketersediaan produk, pelengkap tambahan dan sertifikasi kualitas. Selanjutnya kesebelas atribut tersebut dianalisa menggunakan analisis sikap multiatribut Fishbein. Analisis tersebut menghasilkan nilai 142,85 yang memiliki arti netral. Kenetralan nilai sikap mutiatribut Fishbein memberikan gambaran bahwa atribut-atribut ISN tidak memberikan kesan yang cukup positif maupun negatif pada benak responden.

Pemetaan atribut berdasarkan lima wilayah rasa ISN (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur) menggunakan metoda analisis Biplot menunjukkan hanya dua wilayah rasa (Sumatera dan Jawa) yang memiliki keungulan atribut yang diuji yaitu Sumatera pada kelompok atribut pertama dan Jawa pada kelompok atribut kedua. Adapun kelompok atribut pertama yaitu atribut rasa, harga, bobot, ketersediaan, daya tahan, sertifikasi dan aroma. Sedangkan kelompok atribut kedua yaitu pelengkap, kesegaran dan gizi.

Berdasarkan hasil analisis-analisis tersebut di atas maka dapat ditinjau ulang (review) penetapan STP (Segmentation. Targeting. Positioning) ISN dan konsep produk yang menjadi ekspektasi konsumen.